Galauan malam

 

“malam, aku ingin bercerita tetang redup yang semakin pekat”. Resah dan gelisah yang tiba-tiba saja datang tak berkawan, membuat redup  dan sepi semakin menjadi “ahh akhirnya aku di paksa untuk menikmati”.

Jika di telusuri mungkin sudah tak sepantasnya aku merasakan hal seperti ini, karena dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengajariku menjadi terbiasa. Tapi aku harus bagaimana saat sepi telah menggerogoti jiwa sedang hati menginginkan bertahan dalam sebuah penantian yang mungkin akan panjang, satu pintaku padamu yang namanya telah terukir Di Lauhul Mahfudz

“ jika Dia menghendaki kita untuk bertemu dibumi-Nya mau kah kamu  menerima diriku yang ada pada saat ini dan pada saat sebelumnya, maukah engkau membimbingku berjalan kedepan tanpa menoleh kesamping, mau kah engkau mendengar sedikit dari masalaluku tanpa untuk mempermasalahkannya di kemudian hari?. Angin adalah keajaiban dimana kita dapat merasa tanpa harus melihat. Begitu juga rinduku yang senantiasa nyata mendampingimu walau kita terhalang jarak dan waktu.

Jakarta, 10 desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s